Selasa, 14 Februari 2012

Renungan : Pengorbanan Tulus Yang Seringkali Kita Lupakan



Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 70 tahun, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di rumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut. Ayah dari anak tersebut minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Di samping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahankannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya.

Selain aib yang harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemohan, karena telahelahirkan seorang bayi haram tanpa bapa. Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love – Kasih.

Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan di waktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan penghasilan tambahan yang ia bisa dapatkan. Terkadang ia harus menjahit sampai jam 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restaurant. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yang tercinta. Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya, di samping itu ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.

Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yang seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yang tercinta, hanya yang terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian sampai dengan makanan.

Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca di luaran sangat dingin sekali, karena pada saat itu lagi musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yang telah dikumpulkannya belum mencukupinya. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca diluaran dingin sekali, bahkan dlm keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja. Sejak saat tersebut ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yang terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dlm keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yang tercinta.

Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya diluar kota. Di sana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yang bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restaurant. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidaklah diinginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak saat itu bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu. Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dengan menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya.

Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana. Di rumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai babu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa ia permohonannya telah dikabulkan.
Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali dibentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.

Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya dirumah tersebut, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo.

Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya. Uang pension yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.

Pada tahun lampau beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Di samping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.

Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat di bawah nol dan salujupun turun dengan lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat ini tidak mau keluar rumah lagi, karena di luaran sangat dingin, tetapi Nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya. Ia ingin betemu dengan putrinya sekali lagi yang terakhir kali. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus berjam-jam di luaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat di mana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang berada dlm keadaan sakit.
Setiba di rumah putrinya dlm keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yang membukakan pintu rumah gedong di mana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya ? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegor:

"Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!"

"Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena di luaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!" kata wanita tua itu.

"Maaf saya tidak ada waktu, di samping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!" ucapan putrinya dengan nada kesal. Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis.

Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih, belas kasihanpun tidak ada. Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya "Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon ke kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!"

Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.

Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga. Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dlm setahun. Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari-hari tertentu. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja "Mother's Day" sedangkan di hari-hari lainnya tidak pernah mengingatnya, boro-boro memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu.

Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah. Renungkanlah: Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu? Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan-jalan? Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.

When Mother prayed, she found sweet rest,
When Mother prayed, her soul was blest;
Her heart and mind on God were stayed,
And God was there when Mother prayed!
Our thanks, O God, for mothers
Who show, by word and deed,
Commitment to Thy will and plan
And Thy commandments heed.
A thousand men may build a city,
but it takes a mother to make a home.
No man is poor who has had a godly mother!

Siapapun Kita semua yang ada di dunia sekarang. baik itu seorang pelajar atau pejabat, baik seorang jendral maupun kopral, baik seorang mahasiswa ataupun taruna, baik itu seorang penjahat ataupun pelacur, baik itu seorang koruptor atau pun director, baik seorang menteri ataupun seorang peragawati. Kita semua terlahir dari rahim ibu, ibu yang dengan tulus ikhlas mengandung merawat dan membesarkan kita hingga sekarang kita menjadi seperti ini. Coba saja kalo ibu kita tidak ikhlas mungkin kita sudah di aborsi. Ketika kecil kita sakit beliau merawat kita, ketika kita belum bisa berjalan, beliau menuntun kita, ketika kata belum terucap beliau membimbing kita. Siapapun ibu kita entah renta atau masih muda, entah masih bersama kita ataupun sudah tiada, mari kita ucapkan terima kasih pada beliau, mari kita kasihi beliau sebagaimana kita dulu beliau kasihi, Ya Tuhanku berikanlah tempat teramat istimewa bagi ibuku tersayang.

Sumber KORAN DEWASA 23 Dec, 2011

Ibu, Sang Arsitek Peradaban




Suatu malam yang tenang dan hening. Semua orang telah beranjak ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Menarik selimut hingga terlindungi dari hawa dingin yang melingkupi cakrawala Madinah. Namun, seorang laki-laki yang disadarkan oleh rasa tanggung jawab sebagai pemimpin menyingkap selimutnya. Dia keluar menyusuri lorong-lorong Madinah yang mencekam. Merayapi jalan-jalan yang sepi dari tapak kaki manusia.
Dia keluar seorang diri menembus kegelapan malam. Barangkali ia menjumpai musafir yang tidak menemukan tempat bermalam. Atau orang yang merintih kesakitan. Atau orang lapar yang belum menemukan sesuap makanan untuk mengganjal perutnya. Barangkali ada urusan rakyatnya yang luput dari pengawasannya. Atau mungkin ada domba yang tersesat jauh di pinggir sungai Eufrat. Allah akan menanyakannya dan menghisabnya kelak.
Jangan heran! Lelaki tersebut adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab RA.
Setelah sekian lama mengitari Madinah dan mulai merasakan lelah pada sendi-sendinya, Umar bersandar pada salah satu dinding rumah kecil di pinggiran kota Madinah. Dia beristirahat sejenak sebelum melanjutkan langkahnya menuju masjid.
Kala itu, sayup-sayup terdengar olehnya suara dua orang wanita dari dalam rumah kecil tempat ia bersandar. Percakapan seorang ibu dengan putrinya. Percakapan dimana sang putri menolak untuk mencampur susu perah dengan air putih.
Sang ibu berkata, “Campurlah susu itu dengan air!”

Sang putri menjawab, “Sesungguhnya, Amirul Mukminin telah melarang kita untuk mencampur susu dengan air. Tidakkah Ibu mendengar juru bicaranya menyampaikan larangan tersebut?”
“Umar tidak melihat kita. Dia tidak akan tahu apa yang kita lakukan di saat-saat terakhir malam ini.” Jawab ibunya.
Putrinya pun menjawab seketika, “Wahai Ibuku, walaupun Umar tidak melihat namun Tuhan Umar melihat kita. Demi Allah, saya tidak akan melakukan apa yang dilarang-Nya.”
Ucapan putri tadi menyejukkan hati Umar. Jawaban yang menggambarkan kejujuran dan keimanan.
Akhirnya Umar menikahkan putranya, Ashim, dengan gadis yang baik itu. Gadis itu bernama Ummu Ammarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Ats-Tsaqafi. Kelak ia akan melahirkan dua anak gadis yang diberi nama Laila dan Hafshah. Laila kemudian dikenal dengan panggilan Ummu Ashim.
Ummu Ashim kemudian menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, seorang gubernur Bani Marwan. Dari pernikahan yang suci ini lahirnya seorang khalifah yang mulia, Umar bin Abdul Aziz.
Umar bin Abdul Aziz yang berjuluk Khalifah Kelima adalah pemimpin yang sang bersahaja. Tingkat keimanannya tidak perlu diragukan lagi. Umar hafal Quran sejak kecil. Matanya selalu banjir air mata karena rasa takutnya pada Allah.
Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, tidak ada yang menjadi mustahik. Tidak ada orang yang berhak menerima zakat. Rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Sementara Umar hidup sangat sederhana.
Apa yang menjadikan Umar memiliki pribadi yang begitu luar biasa? Ummu Ashim, ibunda Umar, mendidiknya sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Mengajarkan Umar Quran dan cinta pada Allah. Ia selalu menjaga dan mengawasi putranya.
Ummu Ashim juga dikenal sebagai wanita yang sangat dermawan dan menyayangi orang-orang yang lemah. Ummu Ashim mewakili gambaran ideal tentang sosok seorang ibu. Demikian juga ibunda dari Ummu Ashim. Rasa takutnya pada Allah menjadikannya pribadi yang unggul.
Keteladanan wanita-wanita tersebut menjadi bukti vitalnya seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi. Seorang penyair mengungkapkan bahwa ibu adalah sebuah sekolah. Apabila dipersiapkan dengan baik, berarti telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.
Tidak berlebihan tentu saja. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar –terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.
Gambaran pentingnya tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh DR. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam konferensi dunia tentang wanita di Beijing. Berikut tuturannya :
“Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan keterampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa-masa awal pertumbuhannya. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut.”
Namun, begitu banyak muslimah yang kurang bahkan tidak memahami pentingnya peran seorang ibu. Peran yang, menurut Katme, tidak bisa digantikan oleh siapapun. Menjadi ibu full time dianggap hanya ‘pekerjaan’ tidak penting. Tidak perlu sekolah yang tinggi, tidak perlu pintar untuk menjadi seorang ibu. Salah! Anda justru harus menjadi muslimah yang sangat cerdas untuk bisa memenuhi peran keibuan.
Kemuliaan peran keibuan dewasa ini pun semakin tergerus oleh serangan barat. Setelah Quran dan Sunnah Nabi, hal yang kerap kali diserang oleh para orientalis adalah wanita dan perannya dalam keluarga.
Ide-ide feminisme, kesetaraan gender, dan kebebasan wanita saat ini gencar disuarakan barat kepada umat Islam. Kita pun tahu, tidak sedikit yang terjebak untuk mencicipi racun atas nama kebebasan wanita tersebut. Akhirnya, hancurlah kemuliaan dan martabat wanita diikuti dengan runtuhnya pilar-pilar keluarga dan pendidikan anak.
Islam telah mengajarkan kemuliaan seorang ibu. Sejarah telah mencatat banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Tak pernah ada cacat pada peran keibuan. Tak pernah ada cela pada predikat seorang ibu. Maka tak berlebihan bila ada ungkapan bahwa surga ada di telapak kaki ibu.
Muslimah perlu menyadari peran vitalnya sebagai seorang ibu. Ibu bukan hanya tiga huruf, I – B – U, yang begitu sederhana hingga mudah dilupakan. Ibu bukan hanya predikat sepele sehingga perannya tidak perlu dipenuhi.
Ibu adalah simpul penting sebuah sambungan peradaban. Dialah yang akan mencetak sebuah generasi. Ibu adalah tiang yang akan mengibarkan kembali bendera kejayaan Islam lewat pendidikannya terhadap keluarga. ibu, tak pernah bermakna kecil. Karena Allah lah yang menjadikannya begitu mulia.

“Memilih Sikap Selembut Nurani”, antara tantangan dan pergolakan…


Memilih sikap selembut nurani, itu judul sebuah bab dalam sebuah buku yang pagi ini kuselesaikan diantara desakan penumpang KRL bogor – jakarta.  Aku tak ingin membahas ataupun mengomentari bab dalam buku itu secara dalam, tapi siang ini datang ujian untuk mempraktekkan secuil hikmah dari rangkaian nasehat indah di buku itu.  Ahhh…


Terkadang hati dan lisan tidak bisa sinkron untuk memilih sebuah sikap.  Hati menolak, tapi lisan tak kuasa untuk mengiyakan.  Bahkan tak jarang umpatan keluar begitu saja ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita.  Well, memilih sikap selembut nurani rasanya ungkapan yang sangat tepat ketika kita berhadapan pada segala macam situasi dalam hidup ini.
Allah pun telah memfirmankan dalam surat Al-Anfaal ayat 63,
“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.”
Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja
Menjadi kepompong dan menyendiri
Berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
Bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
Hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
Melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia
(SAF)

Nasehat untuk sang putera (Alm. Yoyoh Yusroh)




Wahai puteraku …
Agar engkau menjadi seorang raja yang berwibawa di hadapan manusia, janganlah berbicara dalam berbagai urusan, Kecuali setelah mengecek kebenaran sumbernya.. dan jika seseorang datang membawa berita, cari bukti kebenarannya sebelum dengan berani engkau berbicara…
Hati-hati dengan isu, jangan percayai setiap yang dikatakan, jangan pula percaya sesuatu yang setengah engkau lihat…
Dan jika engkau mendapatkan cobaan berupa seorang musuh, hadapi dengan berbuat baik kepadanya, tolak dengan cara yang lebih baik, niscaya permusuhan itu berubah menjadi cinta kasih…
Jika engkau hendak mengungkap kejujuran orang, ajaklah ia pergi bersama, dalam bepergian itu jati diri manusia terungkap, penampilan lahiriahnya akan luntur dan jatidirinya akan tersingkap! Dan, bepergian itu disebut safar karena berfungsi mengungkap yang tertutup, mengungkap akhlaq dan tabiat…
Jika engkau diserang banyak orang sementara engkau berada di atas kebenaran, atau jika engkau diserang dengan kritikan-kritikan buruk, bergembiralah… sebab mereka sebenarnya sedang berkata: “engkau orang yang sukses dan berpengaruh”, sebab, anjing yang mati tidak akan ditendang, dan tidak dilempar kecuali pohon yang berbuah

Wahai puteraku…
Jika engkau hendak mengkritik, biasakan untuk melihat dengan mata tawon lebah, dan jangan memandang orang lain dengan mata lalat, sebab engkau akan terjatuh kepada perkara yang busuk!
Tidurlah lebih awal wahai puteraku agar bisa bangun lebih awa, sebab keberkahan ada di pagi hari, dan saya khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan rizki Allah yang Maha Penyayang disebabkan engkau begadang di malam hari, sehingga tidak bisa bangun pagi!
Akan aku ceritakan kepadaku kisah seekor kambing dan serigala, supaya engkau aman dari orang yang berbuat maker, dan saat seseorang memberikan tsiqah-nya kepadamu, jangan sampai engkau mengkhianatinya!
Akan aku ajak engkau ke sarang singa, akan aku ajarkan bahwa singa itu tidak menjadi raja hutan dikarenakan aumannya!! Akan tetapi, karena ia berjiwa tinggi! Tidak mau memakan hasil buruan binatang lain, betapapun ia lapar, dan perutnya melilit-lilit… jangan mencuri jerih payah orang lain, sebab engkau menjadi keji!
Akan aku ajak engkau menemui bunglon, agar engkau menyaksikan sendiri tipu dayanya! Bunglon merubah warna dirinya sesuai dengan tempat ia berada agar engkau mengetahui bahwa yang seperti bunglon itu banyakdan berulang-ulang! Dan bahwasanya ada orang-orang munafik, banyak pula manusia yang berganti-ganti pakaian dan berlindung dibalik alasan “ingin berbuat baik”.
Wahai puteraku ..
Biasakan engkau bersyukur kepada Allah! Cukuplah menjadi alasan untuk bersyukur kepada-Nya bahwa engkau dapat berjalan, mendengar dan melihat!
Bersyukurlah kepada Allah, dan syukuri pula manusia sebab Allah SWT akan menambah orang-orang yang bersyukur, Dan manusia senang saat mendapati seseorang yang diberi sesuatu lalu orang itu menghargainya!
Wahai puteraku… ketahuilah bahwa sifat utama yang paling agung dalam kehidupan ini adalah sifat jujur! Dan bahwasanya kebohongan, meskipun tampak memberi keselamatan .. namun jujur lebih berakhlaq bagimu! Dan bagi orang sepertimu!
Wahai puteraku…
Persiapkan alternative untuk segala urusan agar engkau tidak membuka jalan kehinaan! Manfaatkan segala peluang sebab peluang yang datang sekarang bisa jadi tidak akan berulang!!
Jangan berkeluh kesah, aku harap engkau optimis siap menghadapi kehidupan…
Jauhilah orang-orang yang putus asa dan pesimis, lari dari mereka! Dan jangan sampai engkau duduk dengan seseorang yang selalu memandang sial kepada segala hal!!
Jangan bergembira saat melihat orang lain terkena musibah, jangan pula menghina orang karena postur atau penampilannya, sebab dia tidak menciptakan dirinya dan saat engkau menghina orang lain, pada hakekatnya engkau menghina ciptaan dari Dzat yang Maha Mencipta dan Membuat bentuk rupa
Jangan membuka aib orang, sebab Allah akan membuka aibmu di rumahmu sebab Allah-lah Dzat yang menutupi dan mencintai orang yang menutupi!
Jangan menzhalimi siapa pun dan jika engkau hendak menzhalimi dan engkau merasa mampu menzhalimi, ingatlah bahwa Allah SWT lebih mampu!
Jika engkau merasa hatimu mengeras, usaplah kepala anak yatim engkau akan terheran-heran bagaimana usapan itu dapat menghilangkan rasa keras hati dari hatimu, seakan hatimu menjadi pecah dan melunak!
Jangan mendebat, dalam perdebatankedua pihak merugi.  Kalau kita yang kalah, kita merugi telah kehilangan kebesaran kita, dan jika menang, kita juga merugi, telah kehilangan orang lain yang menjadi lawan debat kita semua kita kalah baik yang merasa menang dan yang merasa belum menang!
Jangan monopoli pendapat yang bagus adalah engkau mempengaruhi dan dipengaruhi!
Hanya saja, jangan larut dalam pendapat banyak orang dan jika engkau merasa bahwa pendapatmu benar,  tegarlah dan jangan terpengaruh!
Wahai puteraku…
Engkau dapat merubah keyakinan orang dan menguasai hati mereka tanpa engkau sadari! Bukan dengan sihir, bukan pula dengan jampi namun, dengan senyumanmu, dan kosa katamu yang lembut dengan keduanya, engkau dapat menyihir!!
Oleh karena itu, tersenyumlah .. maha suci Allah yang telah menjadikan senyuman sebagai ibadah dalam agama kita, dan kita mendapatkan pahala darinya!!
Di Cina, jika engkau tidak murah senyum, mereka tidak akan berikan lisensi kepadamu untuk membuka kedai, jika engkau tidak menemukan orang yang tersenyum kepadamu, tersenyumlah engkau kepadanya!
Jika bibirmu terbuka karena senyuman dengan cepat terbuka pula hati untuk mengekspresikan isinya
Jika orang meragukanmu, bela dirimu, jelaskan dan beri keterangan pembenarannya!
Jangan suka nimbrung dan mengenduskan hidungmu dalam segala urusan, jangan pula ikut-ikutan, berposisi bersama banyak orang saat mereka bersikap!!
Wahai puteraku…jauhkan dirimu dari hal ini, aku sangat tidak suka kalau melihatmu seperti ini!!
Jangan bersedih wahai puteraku terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan! Sebab kita tidak diciptakan kecuali untuk diuji dan diberi cobaan sehingga Allah melihat kita .. adakah kita bersabar?
Karena itu,santai saja jangan keruh hati! Yakinlah bahwa jalan keluar dekat…
“jika mendung semakin hitam, pertanda, sebentar lagi hujan”!!
Jangan meratapi masa lalu, cukuplah bahwa ia telah berlalu sia-sia kalau kita memegang gergaji kayu, lalu menggergaji!!
Tataplah hari esok, persiapkan diri dan singsingkan lengan baju untuk menghadapinya!!
Jadilah orang yang mulia, berbanggalah dengan dirimu!
Sebagaimana engkau melihat dirimu, begitulah orang lain akan melihatmu…
Jangan sekali-kali meremehkan dirimu!! Sebab engkau menjadi besar saat engkau ingin besar…hanya engkau saja yang memutuskan ia menjadi kecil!

Yoyoh Yusroh
Komisi I DPR RI

Ojo Ndesoni….


Mungkin ini satu diantara banyak salah kaprah yang terbentuk dalam “mindset” kebanyakan penduduk Indonesia ketika mendengar kata NDESO… Sudah sering saya menjumpai suatu pameran lukisan secara tidak sengaja, di lobi-lobi kampus atau di stasiun kereta besar, ketika tema yang diangkat adalah penderitaan atau kemiskinan, foto atau lukisan petani yang membawa hasil kerja keras mereka ke pasar yang muncul disana.  Saya khawatir tren ini akan terus berkembang di masyarakat, sehingga pikiran kita selalu ter-asosiasikan bahwa ketika nama desa disebut, maka yang muncul adalah penderitaan, kemiskinan, kesusahan.
Bukan saya memungkiri bahwa tidak sedikit penduduk suatu desa yang berada dalam garis kemiskinan.   Berdasarkan data September 2011, penduduk miskin yang tinggal di desa mencapai 18,94 juta jiwa (Badan Pusat Statistik) sedangkan yang tinggal di kota ‘hanya’ 10,95 juta jiwa.   Padahal secara kasat matapun jelas, wilayah pedesaan jauh lebih besar dibanding perkotaan.


18 taun saya hidup di desa, tapi yang saya lihat justru adalah kemandirian, persaudaraan, kekeluargaan yang kental diantara penduduknya.  Ini yang tidak lagi saya jumpai hampir 6 taun tinggal di hingar-bingar ibukota.
Ibu saya selalu berkata, “berbahagialah kamu lahir sebagai orang desa, tapi asal ojo ndesoni…”

Andai mereka tau…. summer di Taipei…




Andai mereka tau…
34 C, temperatur kota Taipei dalam beberapa hari ini.  Rasanya tidak perlu dibayangkan sepanas apa, seterik apa sepanjang pagi sampai dengan malam.  Bahkan kamarku di dorm yang terkenal paling dingin diantara kamar-kamar yang lain pun kini harus pasang AC sepanjang malam.  Dengan sistem pra-bayar, yah seperti pulsa kalau di Indonesia, setiap malam hampir selalu menghabiskan sekitar 6.2 kWH.  Depok-Jakarta masih jauh lebih bersahabat dibanding Taipei saat summer seperti ini, panasnya nggak ada apa-apanya.  Taruhlah, saat jam 10 – 2 siang panasnya sama.  Tapi pagi dan malem hari, depok masih segar-dingin, berbeda dengan taipei yang sepanjang hari sampai malam suhunya nggak pernah berubah.
Tapi, sepanas-panasnya summer tidak lebih membuatku menderita dibandingkan menyaksikan mode-mode pakaian musim panas mereka.  Masya Allah!  Tidak berlebihan rasanya kalau saya mengatakan, hampir semua jenis mode ada di jalanan kampus,  tidak terbayangkan.  Apa sebenarnya mau mereka??  Pameran busana di jalanan?

Padahal, coba kita lihat fakta yang ada.  Berdasarkan penelitian gaya berpakaian dan penampilan seksi wanita berbanding lurus dengan banyaknya penderita kanker prostat.  Hasil penelitian ini juga mengungkapkan bahwa, pada negara-negara yang para perempuannya bebas mengenakan rok mini dan mengumbar aurat, jumlah penderita impotensi lebih tinggi dibanding negara-negara yang melarang perempuan mengumbar betisnya.  Itu merupakan hasil penelitian para periset di Amerika Serikat selama 30 tahun. Hasil lainnya 80 % pria berumur di atas 60 tahun tewas akibat kanker prostat bersamaan dengan penyakit lainnya.  Disebutkan pula, satu dari tiga pria berumur di atas 30 tahun yang bermukim di Amerika Serikat dan Eropa memiliki potensi terserang gangguan kelenjar prostat.  “Ini terjadi semenjak dimulainya revolusi seksual pada wanita di dunia berkembang melalui gaya berpakaian mereka,” ungkap Leonid Kitaev Smyk, peneliti senior dari Russian Research Institute of Culturology of The Russian Academy.
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59).

setelah JILBAB, kontroversi apalagi dari FIFA!




Terheran-heran dengan dunia bola belakangan ini.   Dua lembaga bola (baca : FIFA dan PSSI) ternyata tidak jauh beda, nggak pernah jauh dari kontroversi.  Untuk PSSI, rasanya satu negri sudah mengecam kekisruhan yang terjadi didalamnya yang seakan tidak pernah akan selesai.   Sedangkan FIFA (institusi sepakbola tertinggi di bumi ini, red) baru-baru ini melarang tim nasional perempuan Iran untuk tampil pada pertandingan kualifikasi Olimpiade 2012 melawan Jordania karena menjadikan jilbab (yang dirancang khusus untuk turnamen tersebut) sebagai bagian dari kostum mereka.  Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad seperti yang dilansir Kompas.com, menilai FIFA melanggar hak asasi manusia dan keputusan itu sarat kepentingan politik. “Mereka adalah diktator dan penjajah yang ingin memaksakan gaya hidup mereka kepada yang lain. Kami akan menghadapi mereka yang menjalankan pekerjaan buruk ini. Kami bertindak sesuai hak-hak anak-anak perempuan kami,” ujar Ahmadinejad seperti dikutip Guardian.
Menurut Guardian, tahun lalu timnas perempuan Iran juga diskors karena alasan serupa. Ketua Divisi Perempuan Federasi Sepak Bola Iran, Farideh Shojaei, mengatakan, pihaknya telah memodifikasi kostum mereka pada bagian penutup kepala dan perubahan itu telah diterima dan diizinkan untuk dipakai oleh FIFA dan presidennya, Sepp Blatter. Dikatakan juga oleh Shojaei bahwa kostum yang sudah dimodifikasi itu sudah pernah dipakai pada pertandingan resmi dan tidak ada masalah. Ia pun mengaku terkejut ketika sesaat sebelum pertandingan melawan Jordania, Jumat lalu, FIFA menskors timnya karena timnya menolak bermain tanpa tutup kepala. Mengacu pada peraturan FIFA untuk Olimpiade 2012, pemain dan ofisial tidak boleh menampilkan pesan atau slogan politik, keagamaan, komersial, maupun personal pada permainan atau kostum tim. Menurut Shojaei, apa yang telah dilakukan Iran tak melanggar peraturan tersebut. “Kami melakukan koreksi yang diminta dan memainkan sebuah pertandingan setelah (memodifikasi kostum). Kami memainkan putaran berikutnya dan tidak dilarang melakukan itu dan mereka tidak menemukan kesalahan apa pun. Itu berarti tak ada masalah dengan cara kami dan kami bisa berpartisipasi di Olimpiade,” kata Farideh. “(Kepala Federasi Sepak Bola Iran) Ali Kafashian membawa masalah ini kepada FIFA dan menunjukkannya kepada Sepp Blatter. Dan, mereka membuktikan bahwa ini sesuai dengan artikel keempat dari konstitusi FIFA yang mengatakan bahwa kostum harus lepas dari unsur agama dan politik. Ini juga tidak membahayakan pemain. Mereka membuktikan ini dan Sepp Blatter menerima ini dan kami berpartisipasi di Olimpiade,” lanjutnya.

Akibat skor tersebut, timnas perempuan Iran diputuskan FIFA kalah 0-3 dan Shojei mengaku tidak yakin keputusan tersebut akan berubah seandainya protes mereka diterima FIFA. “Sangat sulit diprediksi apa hasil dari ini, tetapi saya pikir keputusan tak akan berubah karena pertandingan penyisihan tak akan diulang,” ujar Farideh. “Negara-negara yang berinvestasi dan menghabiskan uang dan waktu dan ambil bagian di putaran kedua jelas tak mau mengulang pertandingan-pertandingan itu, terutama jika pekan ini menjadi jelas tim mana yang akan masuk ke putaran final. Jadi, ini sangat sulit terjadi,” tambahnya. Menanggapi hal tersebut, FIFA mengatakan, “Keputusan FIFA pada Maret 2010 yang mengizinkan bahwa pemain bisa memakai cap yang menutupi kepala sampai batas rambut, tetapi tidak sampai ke bawah telinga dan menutupi leher, masih bisa diterima,” ujar FIFA. “Terlepas dari jaminan awal bahwa delegasi Iran mengerti hal ini, pemain tampil mengenakan jilbab, kepala dan leher tertutup, yang tidak sesuai dengan peraturan permainan. Ini adalah alasan komisioner pertandingan dan wasit pertandingan memutuskan untuk menerapkan peraturan pertandingan, yang berujung dibatalkannya pertandingan,” tutur mereka.
Entahlah, kontroversi seperti apa lagi yang akan terjadi.  Saya hanya seorang penikmat sepakbola, yang hampir tidak pernah lepas dari pertandingan sepak bola sejak Brazil mengalahkan Italia 3-2 melalui adu pinalti 17 tahun silam.  Semoga sepakbola seterusnya akan menjadi pertunjukkan yang memukau, yang mensejajarkan rakyat dengan presiden, yang meniadakan perbedaan ras, usia ataupun agama.