Selasa, 14 Februari 2012

Ojo Ndesoni….


Mungkin ini satu diantara banyak salah kaprah yang terbentuk dalam “mindset” kebanyakan penduduk Indonesia ketika mendengar kata NDESO… Sudah sering saya menjumpai suatu pameran lukisan secara tidak sengaja, di lobi-lobi kampus atau di stasiun kereta besar, ketika tema yang diangkat adalah penderitaan atau kemiskinan, foto atau lukisan petani yang membawa hasil kerja keras mereka ke pasar yang muncul disana.  Saya khawatir tren ini akan terus berkembang di masyarakat, sehingga pikiran kita selalu ter-asosiasikan bahwa ketika nama desa disebut, maka yang muncul adalah penderitaan, kemiskinan, kesusahan.
Bukan saya memungkiri bahwa tidak sedikit penduduk suatu desa yang berada dalam garis kemiskinan.   Berdasarkan data September 2011, penduduk miskin yang tinggal di desa mencapai 18,94 juta jiwa (Badan Pusat Statistik) sedangkan yang tinggal di kota ‘hanya’ 10,95 juta jiwa.   Padahal secara kasat matapun jelas, wilayah pedesaan jauh lebih besar dibanding perkotaan.


18 taun saya hidup di desa, tapi yang saya lihat justru adalah kemandirian, persaudaraan, kekeluargaan yang kental diantara penduduknya.  Ini yang tidak lagi saya jumpai hampir 6 taun tinggal di hingar-bingar ibukota.
Ibu saya selalu berkata, “berbahagialah kamu lahir sebagai orang desa, tapi asal ojo ndesoni…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar