Selasa, 14 Februari 2012

setelah JILBAB, kontroversi apalagi dari FIFA!




Terheran-heran dengan dunia bola belakangan ini.   Dua lembaga bola (baca : FIFA dan PSSI) ternyata tidak jauh beda, nggak pernah jauh dari kontroversi.  Untuk PSSI, rasanya satu negri sudah mengecam kekisruhan yang terjadi didalamnya yang seakan tidak pernah akan selesai.   Sedangkan FIFA (institusi sepakbola tertinggi di bumi ini, red) baru-baru ini melarang tim nasional perempuan Iran untuk tampil pada pertandingan kualifikasi Olimpiade 2012 melawan Jordania karena menjadikan jilbab (yang dirancang khusus untuk turnamen tersebut) sebagai bagian dari kostum mereka.  Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad seperti yang dilansir Kompas.com, menilai FIFA melanggar hak asasi manusia dan keputusan itu sarat kepentingan politik. “Mereka adalah diktator dan penjajah yang ingin memaksakan gaya hidup mereka kepada yang lain. Kami akan menghadapi mereka yang menjalankan pekerjaan buruk ini. Kami bertindak sesuai hak-hak anak-anak perempuan kami,” ujar Ahmadinejad seperti dikutip Guardian.
Menurut Guardian, tahun lalu timnas perempuan Iran juga diskors karena alasan serupa. Ketua Divisi Perempuan Federasi Sepak Bola Iran, Farideh Shojaei, mengatakan, pihaknya telah memodifikasi kostum mereka pada bagian penutup kepala dan perubahan itu telah diterima dan diizinkan untuk dipakai oleh FIFA dan presidennya, Sepp Blatter. Dikatakan juga oleh Shojaei bahwa kostum yang sudah dimodifikasi itu sudah pernah dipakai pada pertandingan resmi dan tidak ada masalah. Ia pun mengaku terkejut ketika sesaat sebelum pertandingan melawan Jordania, Jumat lalu, FIFA menskors timnya karena timnya menolak bermain tanpa tutup kepala. Mengacu pada peraturan FIFA untuk Olimpiade 2012, pemain dan ofisial tidak boleh menampilkan pesan atau slogan politik, keagamaan, komersial, maupun personal pada permainan atau kostum tim. Menurut Shojaei, apa yang telah dilakukan Iran tak melanggar peraturan tersebut. “Kami melakukan koreksi yang diminta dan memainkan sebuah pertandingan setelah (memodifikasi kostum). Kami memainkan putaran berikutnya dan tidak dilarang melakukan itu dan mereka tidak menemukan kesalahan apa pun. Itu berarti tak ada masalah dengan cara kami dan kami bisa berpartisipasi di Olimpiade,” kata Farideh. “(Kepala Federasi Sepak Bola Iran) Ali Kafashian membawa masalah ini kepada FIFA dan menunjukkannya kepada Sepp Blatter. Dan, mereka membuktikan bahwa ini sesuai dengan artikel keempat dari konstitusi FIFA yang mengatakan bahwa kostum harus lepas dari unsur agama dan politik. Ini juga tidak membahayakan pemain. Mereka membuktikan ini dan Sepp Blatter menerima ini dan kami berpartisipasi di Olimpiade,” lanjutnya.

Akibat skor tersebut, timnas perempuan Iran diputuskan FIFA kalah 0-3 dan Shojei mengaku tidak yakin keputusan tersebut akan berubah seandainya protes mereka diterima FIFA. “Sangat sulit diprediksi apa hasil dari ini, tetapi saya pikir keputusan tak akan berubah karena pertandingan penyisihan tak akan diulang,” ujar Farideh. “Negara-negara yang berinvestasi dan menghabiskan uang dan waktu dan ambil bagian di putaran kedua jelas tak mau mengulang pertandingan-pertandingan itu, terutama jika pekan ini menjadi jelas tim mana yang akan masuk ke putaran final. Jadi, ini sangat sulit terjadi,” tambahnya. Menanggapi hal tersebut, FIFA mengatakan, “Keputusan FIFA pada Maret 2010 yang mengizinkan bahwa pemain bisa memakai cap yang menutupi kepala sampai batas rambut, tetapi tidak sampai ke bawah telinga dan menutupi leher, masih bisa diterima,” ujar FIFA. “Terlepas dari jaminan awal bahwa delegasi Iran mengerti hal ini, pemain tampil mengenakan jilbab, kepala dan leher tertutup, yang tidak sesuai dengan peraturan permainan. Ini adalah alasan komisioner pertandingan dan wasit pertandingan memutuskan untuk menerapkan peraturan pertandingan, yang berujung dibatalkannya pertandingan,” tutur mereka.
Entahlah, kontroversi seperti apa lagi yang akan terjadi.  Saya hanya seorang penikmat sepakbola, yang hampir tidak pernah lepas dari pertandingan sepak bola sejak Brazil mengalahkan Italia 3-2 melalui adu pinalti 17 tahun silam.  Semoga sepakbola seterusnya akan menjadi pertunjukkan yang memukau, yang mensejajarkan rakyat dengan presiden, yang meniadakan perbedaan ras, usia ataupun agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar